Bismillahirrahmanirrahim
Jikalau manusia tak tercampuri
oleh nafsu, apalah arti hidup ini. Tak elok kedengarannya ada manusia tanpa
nafsu. Hewan saja punya nafsu. Nafsu membunuh, nafsu makan, nafsu minum dan
lain – lain. Persoalan yang saya rasakan kali ini adalah tentang “financial”.
Status pelajar/mahasiswa ini memudahkan akses kontribusi orang tua terhadap
financial hidup saya di kota orang ini. Bahkan sebenarnya tak terbesit kata
“korupsi” ataupun memanfaatkan akses financial yang bisa saja, saya berbohong
ini itu untuk kesejahteraan hidup saya di kota yang jauh dari pengawasan orang
tua. Sungguh tak akan kudustakan tetesan keringat orang tua hanya untuk
kesenangan diri saya sendiri. Namun persoalannya adalah ketidakbijakan saya
dalam mengatur financial ini, sebenarnya sudah mulai terbesit rasa malu minta
ini itu kepada orang tua walaupun memang masih menjadi tanggung jawab mereka.
Tapi ini juga bukan merupakan akses kita untuk memanfaatkan orang tua karena
kita masih menjadi tanggung jawab mereka. Mungkin kata “boros” yang tepat untuk
persoalan saya ini, bagaimanapun ada korelasinya antara nafsu dan boros. Nafsu
ingin beli ini itulah yang akan merogoh saku dari jatah yang sudah dikontrakan
antara orang tua dan anak, yang akhirnya si anak meminta kurang. Begitulah saya
saat ini. Mungkin saya tahu bagaimana persoalan ini harus diatasi – dengan
membendung keinginan/nafsu. Tapi ya.. kadang sulit diaktualisasikan kalau hanya
menahan itu sendiri tanpa ada saran dari keluarga atau kerabat. Mungkin saran
juga akan mempermudah saya mengatur keinginan ini. Semoga itu membatu, amiin.
Ogh ya mungkin saya perlu membayangkan bagaimana nikmatnya sensasi membendung
keinginan/nafsu ingin beli ini itu layaknya menjalankan ibadah puasa bulan
Ramadhan. Kemenangan dan kenikmatan akan tercapai pada akhirnya jika kita sabar
menahan godaan – godaan syetan tersebut. Rasakan sensasi beli sesuatu dengan
hasil tabungan sendiri dari pada merogoh uang orang tua. Tulisan ini yang
nantinya menjadi omelan – omelan dalam rekonstruksi hidup ini. Amiiin..
at Barokah’s Boarding

0 komentar:
Posting Komentar